Bagaimana jika ketenangan itu datang ketika kau mencoba mengiklaskan segalanya lalu menjalani nya sebaik mungkin, sebisamu?

aku sudah mempelajari nya, dari anakku.

Dulu, saat ia masih newborn aku selalu membandingkannya dengan bayi lain. Mengapa dia begini, mengapa bayi lain tidak. Aku di penuhi dengan setres untuk sekedar menunggu kapan anakku akan begini begitu.

Rumaisya lahir dengan berat 2,7kg, normal. Tapi ia kekurangan berat badan. Kemudian mengalamai growth spurt. Ia selalu menangis di dua bulan pertama kehidupan nya. Menangis dengan sekuat tenaganya, selalu ingin menyusu. Kata orang, ia akan berhenti menangis jika sudah 1 minggu. Namun setelah 1 minggu tangisnya tak kunjung reda. Kami mulai kewalahan, bingung.

Dari situ aku mulai membandingkan rumaisya dengan bayi lain, mengapa rumaisya tak seanteung bayi lain. Mengapa selalu menangis, mengapa tak bisa diajak foto, mengapa aku tak bisa santai dengan bayi ku, mengapa menyusui itu susah dan banyak lagi.

Aku tenggelam dalam pertanyaan “mengapa” Ku untuk rumaisya, hingga akhirnya kuputuskan untuk berhenti. Berhenti menuntutnya. Diliputi perasaan was-was dan fikiran konyol cenderung membuat kita tidak bahagia.

Padahal, kita harus bahagia agar bisa membahagiakan orang lain. Aku memilih cara “bahagia” Dalam merawat rumaisya, bukan dengan target, bukan dengan tuntutan bukan dengan apapun yang membuat lelah fikiran.

Aku mulai dengan menerima dia apa adanya, saat ia mulai menangis lagi, aku tenangkan ia sebisaku tanpa menuntutnya untuk cepat berhenti menangis. Jika lelah, kami menggendong nya bergantian dengan suami. Mencoba mendekapnya dalam peluk, memberitahu nya bahwa kami ada disini bersamanya. Meski sedikit meninggalkan rasa was-was, kami berhasil melewati 2 bulan kehidupannya yang diwarnai dengan tangis.

Kemudian semua berjalan baik, alhamdulillah. Qadarullah semuanya menjadi benar-benar baik. Tangisnya berkurang seiring waktu, kami bertiga mulai beradaptasi. Mulai saling memahami.

Mulai menjalani semua nya apa adanya. Kami tak selalu menargetkan rumaisya harus bisa ini di umur segini. Karna tugas kami hanya mendampingi dan mengajari, kemudian menyaksikan dia ber proses serta berprogres. Jika saat ini ia mampu melampaui dirinya, kami bersyukur untuk itu. Alhamdulillah.

Kadang kita harus mengendorkan ekspektasi yang dibuat berdasarkan tolak ukur orang lain. Kita, harus selalu banyak bersyukur, dan cara paling ampuh untuk bersyukur adalah dengan berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Menerima semua kurang diri kemudian menjalaninya dengan sebaik mungkin..

Kini, setiap kali melihat dia tertawa, aku selalu haru. Teringat saat ia menangis dulu, saat ku minta ia cepat berhenti dari tangisnya, duh nak betapa tak sabaran nya umikmu ini. Maaf karna sempat memaksamu.. Padahal kau sudah susah payah berjuang untuk lahir, padahal kau sedang beradaptasi yang ku tau itu tak mudah. Sebagaimana aku beradaptasi memberimu ASI.

Terimakasih karena telah memberikan umik pelajaran berharga tentang ikhlas. Bahwa segala sesuatu ada waktunya, tak kan selamanya, serta akan tiba masanya.

Untuk waktu-waktu yang InsyaAllah akan kita jalani nanti, mari kita tapaki bersama dengan lapang dada sembari mensyukuri nikmat yang ada.