Disinilah aku, di tengah malam yang dingin ditemani seorang bayi kecil yang sedang tertidur pulas. Ia nampak kesana kemari mencari posisi nyaman tanpa terbangun setelah ku susui beberapa jam yang lalu.

Jika kuliat ia lagi, rasanya haru dan bahagia menyeruak dida. Ia yang dulunya sering menangis, kini sudah bisa berucap “bobok”, ” Mamam”,”aik” Bahkan sudah bisa memanggilku dengan sebutan “miik”.

Ah, waktu. Cepat sekali engkau berlalu. Tak puas rasanya kunikmati kelucuan bayi mungilku itu.

Ternyata benar, aku hanya harus bersabar padanya untuk waktu yang sebentar. Bisa-bisanya sekarang aku rindu padanya,padahal ia berada tepat disamping ku.

Ku lirik ke bawah tempat tidur, seorang laki-laki yang kunikahi beberapa tahun itu sedang terkapar sambil memejamkan mata. Dia selalu seperti itu, pamit untuk kerja. Padahal tidur dengan nyenyaknya. Terkadang dia membuat secangkir kopi, bukan untuk bergadang. Tapi sebagai obat tidurnya. Keesokan paginya, kopi itu tetap utuh, dingin.

Meski begitu, tiap malam tetap saja dia membuat secangkir kopi. Bukan untuk diminum, melainkan untuk ditinggal tidur. Suamiku, terkadang aneh. Tetapi karena itulah aku setuju dinikahinya, karna kami sama. Sekufu. Cocok! Mhe~

Tinggalah aku disini sendirian terjaga, menatap gawai pipih milikku yang layarnya sudah retak seribu. Yang membuatku kesulitan untuk selfi. Tapi bagus juga, bisa menghindarkan ku dari bahaya terlalu kagum pada diri sendiri. Sehingga buta akan aib diri yang begitu banyak. Yang tak akan aku sebutkan, sebab dosa. Ssttt!

Selalu seperti ini jika aku bermain gawai sebelum tidur. Mataku tak akan mau di ajak tidur dengan mudah. Akan ada drama, kesana kesini, pusing sana sini dan sebagainya. Aku tau ini hal buruk, tapi tetap saja aku melakukannya.

Ah, godaan cerpen di grup komunitas bisa menulis berhasil mengalahkanku. Membuat aku memanjat jauh kebawah, lebih dalam. Dalam dan dalam lagi.

Sebelum menulis ini, aku baru saja menamatkan kisah seorang yang berniat menikahi sahabatnya dikarnakan kasihan. Sebab sahabatnya terlalu mencintainya hingga tak menikah hingga usia 45 tahun.

Kisah nya dituangkan dengan begitu indah, sehingga pembaca ikut terhanyut dalam kisahnya. Padahal berkisah tentang seorang lelaki yang hendak poligami, tapi entah kenapa cerita nya begitu menohok. Dalam. Sehingga tak ada hujatan disana, aku terkesan. Kagum.

Rasanya, ingin segera kubuat kisah karanganku sendiri. Yang juga akan membuat orang lain tergugu membacanya. Namun, aku bukan pujangga yang lihat merangkai kata.

Meski sudah mencoba tetap belum berhasil ku tuliskan kisah ku itu. Mungkin karena kurang berlatih. Bisa saja.

Aku masih mencoba melirik ke setiap sudut ruangan, berharap menemukan alur bagaimana tulisan ku malam ini berakhir. Ku tatap dinding putih didepanku dengan nanar. Tak jua kutemukan arah tujuan tulisanku ini.

Bayi kecil ku kini sudah kembali merubah posisi tidurnya, tadinya ia menghadapku, sekarang ia membelakangiku. Lucu sekali, MasyaAllah. Ingin ku bangunkan rasanya, tapi jika ia bangun, ingin ku tidurkan kembali. Ibu-ibu memang labil.

Ku coba membenarkan posisiku, mencari rasa kantuk yang dari tadi hilang entah kemana. Padahal rasa lelah ini begitu mendera. Sore tadi, aku bergumul dengan cucian yang menggunung sebab ku tumpuk.

Membersihkan kamar yang sudah seperti puing-puing reruntuhan kapal van der wijck. Meskipun lebih banyak suamiku yang mengerjakan, setidak aku juga ikut lelah. Sebab lelahnya adalah lelahku juga. Bukankah begitu?

Ku coba palingkan kembali pandangan ke samping. Terlihat gambar kepala serigala,kura-kura, singa menari-nari di kain penutup kelambu.

Ah, aku sudah mulai berhalusinasi. Pertanda harus segera ku akhiri ritual bergadang ini dengan paksa.

Sekian saja dari ku, salam untukmu yang sedang membaca. Semoga selalu sehat. Aamiin!