Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Namun mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk adalah sebuah keharusan. Dalam menghadapi masa pandemi seperti sekarang, sikap paling cerdas kita sebagai makhluk berpendidikan adalah beradaptasi dengannya. Sebisa mungkin kita harus tetap bertahan pada setiap keadaan dan menyesuaikan diri. Mencoba segala solusi terbaik yang bisa kita lakukan untuk tetap hidup dan berkehidupan.

Setiap sektor ikut terkena imbas dari pandemi termasuk pendidikan. Sekolah ditutup, namun para pengajar diwajibkan untuk tetap memberikan pembelajaran. Meski dengan susah payah, para guru menyesuaikan metode pembelajaran mereka. Hikmahnya, secara tidak langsung guru juga melakukan pengembangan diri. Dari yang awalnya mungkin banyak yang tidak mengerti teknologi, menjadi sedikit lebih memahami.

Pembelajaran secara daring (dalam jaringan) mau tidak mau harus dilakukan demi menjaga aktivitias pendidikan (belajar mengajar) tetap berjalan meskipun pembelajaran secara daring masih kurang efektif dibanding belajar secara langsung. Pada saat belajar secara tatap muka, siswa leluasa untuk bertanya apapun yang tidak mereka mengerti dari penjelasan yang disampaikan. Lain hal jika belajar secara daring. Mereka seperti segan untuk bertanya, entah karena apa. Ketika diberikan tugas, siswa cenderung mencari jawaban lewat internet kemudian di copy paste apa adanya. Hal ini dikhawatirkan akan mengikis kreatifitas siswa, meskipun ada pula yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh sesuai pemahaman mereka.

Dari pengalaman beberapa bulan pembelajaran daring, kesulitan lain yang dihadapi biasanya adalah koneksi internet yang masih kurang merata di setiap daerah. Di tempat saya mengajar sendiri koneksi internet memang sudah cukup baik. Namun ada beberapa daerah penghuluan yang masih belum terjangkau sinyal. Akibatnya, ada beberapa siswa yang berasal dari daerah terpencil kesulitan untuk mengakses pembelajaran secara daring. Melihat hal tersebut, kami para guru mencoba untuk memberikan solusi terbaik berupa kelonggaran waktu dalam hal pengumpulan tugas.

Selain itu ada juga beberapa siswa yang tidak aktif dikarenakan keterbatasan kuota. Meskipun begitu, mereka akan tetap konfirmasi ke guru mengenai alasan ketidakhadiran mereka dalam pembelajaran online sekaligus akan menyelesaikan tugas yang tertinggal dilain hari pada saat kuota telah ada. Semangat belajar mereka ditengah segala keterbatasan sangat patut di acungi jempol. Maka dari itu, setiap siswa yang mengerjakan tugas daring akan kami apresiasi setinggi mungkin.

Pada setiap kesulitan akan selalu ada kemudahan.  Belajar secara daring di masa pandemi ini saya nilai lebih leluasa, tidak berbatas tempat maupun waktu. Siswa bisa mengerjakan tugas dimanapun dan kapanpun selama mereka punya koneksi internet. Sumber belajar juga semakin luas, tidak hanya didapat dari guru yang bersangkutan melainkan dari seluruh dunia yaitu lewat perantara internet. Siswa bisa menyadari bahwa belajar tidak hanya bisa dilakukan di sekolah. Dengan tetap dirumah dan belajar secara daring, secara tidak langsung siswa juga di ajari untuk mengikuti pergerakan zaman yang semakin cepat. Beradaptasi didalamnya dan menjadi lebih unggul dari mereka yang sebelumnya. Terkadang kita tidak harus mengerjakan apa yang kita sukai saja, kita juga harus menyukai apa yang sekarang kita kerjakan. Jadi, tetap optimis belajar daring. Setelah pandemi berakhir, semoga kita semua sudah menjadi pribadi yang lebih baik serta berpengalaman dari sebelum pandemi ada.